twitter rss

Latar Belakang dan Kriteria dalam Menentukan “Tolok Ukur” Kegagalan Bangunan

Label:



Steffie Tumilar – HAKI, Jakarta, Mei 2006.



1. Pendahuluan.

Dengan dikeluarkannya  UU-RI  No.18  Tahun  1999  Tentang  Jasa  Konstruksi  dan
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jasa Konstruksi, Peraturan Pemerintah No.29
Tahun 2000, maka timbul berbagai komentar dari berbagai Asosiasi Profesi terutama perihal definisi dari Kegagalan Bangunan” (“Building Failure”) serta penerapan dari Undang-Undang tersebut. Dampak ini melanda pengguna Jasa Konstruksi  dan pihak Asuransi,    karena                     definisi           yang    ditentukan                   dalam     Undang-Undang tersebut spektrumnya sangat luas sehingga sulit untuk diterapkan.
Sejak tahun  2000  telah  dilakukan  pembahasan  mengenai  “Kegagalan  Bangunan” khususnya perihal definisinya dengan berbagai Asosiasi Profesi dan pihak Sekber Jasa Asuransi, dan HAKI  (Himpunan Akhli Konstruksi Indonesia) berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Tetapi setelah  berlangsung sekian lama, pembahasan tidak dapat menghasilkan  sesuatu  yang  konkrit  karena  pembahasan  masih  berputar  disekitar definisi “Kegagalan Bangunan” yang ternyata sangat kompleks dan tidak sesederhana seperti yang diungkapkan dalam Undang-Undang.
Untuk  memungkinkan  terlaksananya  Undang-Undang  tersebut  maka  perlu  dibuat rambu-rambu  mengenai  kriteria  dan  Tolok  Ukur  Kegagalan  Bangunan  yang  lebih realistis dan spesifik.

2. Apa yang dimaksudkan dengan “Kegagalan” (Failure)?

a. UU-RI No.18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, Bab 1, Pasal 1    ayat 6 adalah: Kegagalan       bangunan adalah keadaan bangunan, yang  setelah diserah terimakan oleh  penyedia  jasa  kepada  penguasa  jasa,  menjadi  tidak  berfungsi  baik  secara keseluruhan  maupun   sebagian   dan/atau  tidak  sesuai  dengan  ketentuan  yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatannya yang menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa.
Menurut  Peraturan   Pelaksanaan   Undang-Undang   Jasa   Konstruksi,   Peraturan Pemerintah  No.29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Bab V Pasal 34 adalah:
Kegagalan bangunan  merupakan  keadaan  bangunan  yang  tidak  berfungsi,  baik secara  keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat, keselamatan dan kesehatan kerja, dan atau keselamatan umum sebagai akibat kesalahan Penyedia jasa dan atau Pengguna jasa setelah penyerahan akhir pekerjaan konstruksi.
Catatan:
Perihal tanggung jawab, jangka waktu tanggung jawab, Pihak Ketiga selaku penilai dan ganti rugi dapat dilihat pada Bab V, Pasal 35s/d 48.


b. Dov   Kaminetzky,”Design   and   Construction   Failures”-Lessons   from   Forensic Investigation,  McGraw-Hill,Inc,1991  menyatakan,  failure”  is  human  act  and  is defined      as:   omission          of         occurrence                or     performance;     lack               of    success; nonperformance; insufficiency; loss of strength; and cessation of proper functioning or performance.

c. N  Ananda  Coomarasamy,  Senior  Civil  Engineer,  Construction  &  Maintenance Department Port of Singapore Authority, Construction Related Structural Failures”, International Conference on  Structural Failure, ICSF 87, Singapore, 30-31 March
1987  mengemukakan,  Structural  failure  may  be  defined  as  the  behaviour  or performance of a structure not in agreement with the expected condition of stability and desired service. Failure can also refer to total collapse and defects of such nature that are irrepairable or uneconomical to repair for proper usage.

d. HAKI  pada  tahun  2001  coba  mengkaitkan  dengan  UU-RI  No.18  Tahun  1999
Tentang Jasa Konstruksi, dan memberikan usulan definisi sebagai berikut:

1) Definisi  Umum:
Suatu  bangunan  baik  sebagian  maupun  keseluruhan  dinyatakan  mengalami kegagalan  bila   tidak  mencapai  atau  melampaui  nilai-nilai  kinerja  tertentu (persyaratan minimum , maksimum dan toleransi) yang ditentukan oleh Peraturan, Standar dan Spesifikasi yang berlaku saat itu sehingga bangunan tidak berfungsi dengan baik.
2) Definisi Kegagalan Bangunan akibat Struktur.
Suatu  bangunan  baik  sebagian  maupun  keseluruhan  dinyatakan  mengalami kegagalan struktur bila tidak mencapai atau melampaui nilai-nilai kinerja tertentu (persyaratan minimum , maksimum dan toleransi) yang ditentukan oleh Peraturan, Standar dan Spesifikasi yang berlaku  saat itu sehingga mengakibatkan struktur bangunan tidak memenuhi unsur-unsur kekuatan  (strength), stabilitas (stability) dan kenyamanan laik pakai (serviceability) yang disyaratkan.

e. Dr.  Jack  E.  Snell,  Director,  Building  and  Fire  Research  Laboratory,  NIST Investigation  Authorities,  minutes  of  April  29,  2003,  meeting  -  Gaithersburg, Maryland,  The National Construction Safety Team Advisory Committee National Institute of Standards and Technology: All the law says is that significant loss of life or the potential for significant loss of life within buildings would constitute a building  failure.  Pernyataan  ini  dikemukakan  pada  saat  ada   peserta  meeting menanyakan apa definisi dari “Building Failure”.

Tentunya masih banyak lagi definisi-definisi yang dapat dikemukakan berbagai pihak, sehingga   kelihatannya  sampai  saat  ini  belum  ditemukan  satu  kesepakatan  yang universal sebagaimana yang terlihat pada pernyataan-pernyataan berikut.
Prof. Briant  Clancy,  President,  Institution  of  Structural  Engineers  dalam  Keynote Address  pada  International  Conference  on  Foundation  Failures,  12-13  May  1997, Singapore mengatakan: ……..I  have attended many Conferences over the years but few speakers have attempted to address the question of “what is a failure?” and I will be interested to see what contributors to this Conference  decide constitutes a failure and why?


Hal  yang  serupa  juga  dipertanyakan  pada  meeting  yang  lalu  yang  diadakan  di Gaithersburg, Maryland, The National Construction Safety Team Advisory Committee National Institute of Standards and Technology, April 29,2003.

3. Beberapa pengertian dan penjelasan dibalik “Kegagalan” (Failure).

“All failures are caused by human errors and we cannot design for zero probability of failure”. We must not forget that risk cannot be entirely eliminated, but only reduced to an acceptable level. Dengan demikian maka asuransi diperlukan. Walaupun demikian konsultan perlu merencanakan segalanya  dengan baik, oleh karenanya dalam setiap design akan ada suatu safety factor.
assumed strength


Safety factor ≈


assumed load


Bila Actual load > Actual strength , the result is failure.
Safety can be defined as the state of being safe or freedom from risk of injury or danger.

3.1. Errors, mistakes, and blunders.
a. Errors: Deviation from the true value, lack of precision, variation in measurement because of lack of human and mechanical perfection.
Errors dapat dibagi dalam 2 kelompok: accidental errors dan systematic errors. Accidental errors, on  the other hand, will be distributed at random in accordance with the laws of probability.
Systematic errors are errors which are always of approximately the same magnitude. Ada 3 jenis dasar dari human errors:
1). Errors of knowledge (ignorance).
Ignorance: ignorance is often the result of insufficient education, training and experience.
2). Errors of performance (carelessness and negligence).
Carelessness and negligence include errors in calculations and detailing, incorrect reading   of   drawings   and   specifications,   and   defective   construction   and workmanship. These are errors of execution, and are the result of lack of care.
3). Errors of intent (greed).
Greed, on the other hand, is an error of intent which is done with full knowledge. b. Mistakes:  Mistakes result from lack of judgment, caused by a misconception or misapprehension-that is, by conceiving or understanding wrongly. Lack of judgment may be divided into two categories: mistakes due to acceptance of wrong data and
mistakes due to lack of experience.
c. Blunders: Blunders are the result of lack of care.

3.2. Unsur-unsur kegagalan (ingredients of failure).

a. Collapse: When all the built-in resistances in a structure are no longer available, the unfortunate result is a total collapse.
b. Progressive collapse are usually very severe since they take the form of swift, “domino effect” failures.
c. Nonperformance.


Semua construction projects bergerak secara bertahap sesuai dengan daur hidupnya (life cycle), yang umumnya terdiri dari 4 tahapan. “If one phase is faulty, no grade of excellence on the part of the other phases will prevent nonperformance or failure of the facility”. Tahapan yang dimaksud adalah:
1). Concept and feasibility.
2). Design, details, and specifications-contract documents.
3). Performance of the work, actual construction, control, guidance, and supervisory inspection.
4). Owner and public use of the completed facility.

4. Penyebab “Kegagalan” (Cause of Failure).

Penyebab kegagalan dapat dibagi dalam dua klasifikasi. a. Predictable.
Predictable (controlled by humans) mencakup:
1)  Design (we must not forget that risk cannot be entirely eliminated, but only reduced to an acceptable level).
2)  Detailing and drafting
3)  Material  (material  failure  is  either  a  failure  of  selection  or  a  failure  in  the manufacture  process. Material themselves never fail. They follow the laws of nature and physics).
4)  Workmanship
5)  Inspection
b. Unpredictable, “act of God”.

5. Jenis Kegagalan (Types of Failures).

Kegagalan (failures) dapat diklasifikasikan dalam:
a. Construction failures
Construction failures occur prior to and during construction. Prior to construction, errors occur in concept and in design.
b. Service failures
c. Maintenance failures.

6. Failure Range.

R J M. Sutherland Partner Harris & Sutherland, London, England, Structural safety and Failure   An  Overview”,  International  Conference  on  Structural  Failure,  ICSF  87, Singapore, 30-31 March 1987:
Failure    range    from    total    collapses,    local    fractures,    excessive    deflections   and uncomfortable vibration to premature decay and unexpectedly high maintenance.

7. Definisi “Kegagalan Bangunan” (“Building Failure”).

Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat betapa kompleks permasalahan yang dihadapi dalam  menentukan  definisi  dari                        “Kegagalan  Bangunan”  (Building  Failure)  karena terdapat            banyak istilah                yang       harus     didefinisikan  juga                  sebelum              mendefinisikan “Kegagalan  Bangunan”  itu  sendiri.  Oleh  karena  itu  maka  pada  rapat-rapat  dengan


berbagai Asosiasi  Profesi  yang  diadakan  di  LPJKN  (Lembaga  Pengembangan  Jasa Konstruksi   Nasional)  pada  tahun  2005  yang  lalu  disepakati  bahwa  pembahasan selanjutnya harus bertolak dari definisi yang telah ditentukan dalam  UU-RI No.18 Tahun
1999 Tentang Jasa Konstruksi, karena merubah Undang Undang bukan hal yang mudah disamping  membutuhkan  waktu  yang  panjang.  Untuk  mengatasi  permasalahan  yang sangat kompleks tersebut maka banyak negara berlindung dibalik “Code and Standards”.

8. Format Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.

Format Tolok Ukur Kegagalan Bangunan disusun berdasarkan tahapan kegiatan (life cycle) sebagaimana umumnya dilakukan, yaitu diawali dengan Perencanaan, Sifat Bahan Bangunan, Pengujian  Bahan dan Bangunan/Konstruksi, Pelaksanaan dan Pengawasan dan Pemeliharaan Bangunan. Walaupun demikian life cycle dari suatu profesi dapat saja berbeda atau lebih spesifik. Dalam menetapkan rambu-rambu tersebut harus didasarkan pada  Peraturan  Nasional  dan  Peraturan  Daerah  yang  kemudian  dapat  diikuti  oleh Ketentuan Standar lain yang dapat bersumber dari berbagai standar yang layak yang tidak tercantum dalam Peraturan Nasional maupun Peraturan.

9. Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.


Dalam  implementasinya,   ketentuan   kegagalan   bangunan   tersebut   membutuhkan penjelasan  lebih  lanjut, yaitu tolok ukur yang dipakai dalam menentukan kegagalan bangunan tersebut.

a. Tolok  ukur  yang  dipakai  adalah  bahwa  semua  bangunan  harus  direncanakan, dibangun dan dipelihara mengikuti Peraturan Nasional dan Peraturan Daerah.
b. Segala  ketentuan  yang  tidak  tercakup  dalam  Peraturan  Nasional  dan  Peraturan Daerah,  selanjutnya dapat mengacu pada  berbagai Ketentuan, Standar, Handbook dan Manual yang diterbitkan oleh Asosiasi-Asosiasi / Institusi-Institusi Profesi.
c. Untuk kondisi dimana dipergunakan secara bersamaan antara Peraturan Nasional, Peraturan Daerah dan Ketentuan atau Standar yang diajukan oleh Asosiasi-Asosiasi Profesi Pengguna Jasa baik  sebagian atau secara keseluruhan, maka yang dipakai sebagai tolok ukurnya adalah yang memiliki ketentuan yang lebih baru.
d. Dalam berkas perencanaan, Perencana perlu mencantumkan Peraturan-peraturan dan
Standar-standar yang dipergunakan.


Tolok Ukur yang diusulkan adalah seperti yang  dicantumkan pada tabel berikut.



Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
1. Perencanaan
Peraturan Nasional dan
Peraturan Daerah yang dipergunakan
. SNI-Standar Nasional Indonesia
. Perda
Yang berlaku pada saat perencanaan
dilakukan
1.Ketentuan dan Standar yang dipergunakan
2.Handbook, Manual yang dipublikasi oleh Asosiasi
/institusi Profesi
3.Recommended/well known Software (oleh Asosiasi/ Institusi profesi)
SNI,  ACI,  ASCE,  AISC,  ATC,  API, AWS,  AASHTO,  ASME,  ANSI,  AITC,
AIJ, AS, AWWA, BSI, BSSC, Caltrans, CRSI,  CP,  CSA,  CIRIA,  DIN,  DNV, DOD, Eurocode, FEMA, FHWA, IBC, ICBO, ICE, JWA, NSSMFE, NCHRP, OTC,  PCI,  SNV,  USBR,  NZS,  NHI,
WES,    WFCM,       USACE,    NAVFAC, NASA, NIBS, NRC, TCM,
US Department of Commerce,
US Department of Interior-Federal Waterpolution Control Administration, US Department of Interior-Water and
Power Resources Service,
Department of The Army and The Air
Force,
US  Department  of  Army  Technical
Manual,
Yang dipakai pada saat perencanaan
dilakukan (edisi terakir)




Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
2. Sifat Bahan Bangunan
Peraturan Nasional
. SNI-Standar Nasional Indonesia
Yang berlaku pada saat perencanaan dan
pelaksanaan dilakukan
1.Ketentuan dan Standar yang dipergunakan
2.Handbook, Manual yang dipublikasi oleh Asosiasi
/institusi Profesi
3.Recommended/well known Software (oleh Asosiasi/ Institusi profesi)
SNI, ASTM, AS, BS, CP, Caltrans, DIN,  PCI,  PTI,  JIS,  ISO,  RILEM,
USACE,       NASA,   NIBS,       NRC, NCHRP, WFCM, TCM
Yang dipakai pada
saat perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan (edisi terakir)



Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
3. Pengujian Bahan dan Bangunan/Konstruksi
Peraturan Nasional dan
Peraturan Daerah yang dipergunakan
. SNI-Standar Nasional Indonesia
. Perda
Yang berlaku pada saat perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan
1.Ketentuan dan Standar yang dipergunakan
2.Handbook, Manual yang dipublikasi oleh Asosiasi
/institusi Profesi
3.Recommended/well known Software (oleh Asosiasi/ Institusi profesi)
SNI, ASTM, ACI, ASCE, AISC, API, AWS,  AASHTO,  AS,  BSI,  Caltrans, CP,  DIN,  Eurocode,  ERDC,  FHWA,
IBC, ICBO, UBC, OTC, PCI, TNO, NZS, USACE, NAVFAC, NASA, NIBS, NIST, NRC, NCHRP, WFCM, TCM
Yang dipakai pada saat perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan (edisi terakir)



Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
4. Pelaksanaan dan Pengawasan
Peraturan Nasional dan
Peraturan Daerah yang dipergunakan
. SNI-Standar Nasional Indonesia
. Perda
Yang berlaku pada saat perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan
1.Ketentuan dan Standar yang dipergunakan
2.Handbook, Manual yang dipublikasi oleh Asosiasi
/institusi Profesi
3.Recommended/well known
Software (oleh Asosiasi/ Institusi profesi)
SNI, ACI, ASCE, AISC, ASTM, API, AWS, AASHTO, CP, Caltrans, DIN, FHWA,  PCI,  PTI,  USBR,  USACE,
NASA, NIBS, NCHRP, WFCM, TCM
Yang dipakai pada saat perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan (edisi terakir)



Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
5. Pemeliharaan Bangunan.
Peraturan Nasional
. SNI-Standar Nasional Indonesia
. Perda
Yang berlaku pada saat perencanaan dan pelaksanaan dilakukan
1.Ketentuan dan Standar yang dipergunakan
2.Handbook, Manual yang dipublikasi oleh Asosiasi
/institusi Profesi
3.Recommended/well known
Software (oleh Asosiasi/ Institusi profesi)
SNI,    ACI,     ASCE,     AISC,    AWS, AASHTO, BSI, CP, Caltrans, DIN, FHWA,           USBR,    USACE,          NAVFAC, NASA, NIBS, NCHRP,
Yang dipakai pada saat perencanaan dan pelaksanaan dilakukan (edisi
terakir)








Abbreviasi dari Peraturan dan Standar.

SNI       : Standar Nasional Indonesia
PERDA   : Peraturan Daerah
ACI       : American Concrete Institute
ASCE     : American Society of Civil Engineers
AISC     : American Institute of Steel Construction
AWS      : American Welding Society
ASTM    : American Society for Testing and Materials
ATC       : Applied Technology Council
API       : American Petroleum Institute
AASHTO : American Association of State Highway and Transportation Officials
ASME    : American Society of Mechanical Engineers ANSI   : American National Standards Institute AITC        : American Institute of Timber Construction AWWA        : American Water Works Association
AIJ        : Architectural Institute of Japan
AS         : Australian Standards
BSI        : British Standard Institution
BSSC     : Building Seismic Safety Council
Caltrans : California Department of Transportation
CRSI      : Concrete Reinforcing Steel Institute
CP         : British Standard Code of Practice
CSA       : Canadian Standard Association
CIRIA    : Construction Industry Research and Information Association
DOD      : US Department of Defense
DIN       : Deutsches Institut für Normung e.V DNV   : Det Norske Veritas
Eurocode
ERDC     : US Army Engineer Research and Development Center
FEMA     : Federal Emergency Management Agency
FHWA    : Federal Highway Administration-US Department of Transportation
IBC       : Interrnational Building Code-International Code Council
ICBO      : International Conference of Building Officials
ICE       : Institution of Civil Engineers
ISO        : International Standards Organisation
JIS        : Japan Industrial Standards
JWA       : Japan Waterworks Association
UBC       : Uniform Building Code
NSSMFE : National Society of Soil Mechanics and Foundation Engineering


NAVFAC : Naval Facilities Engineering Command
NIBS      : National Institute of Building Sciences
NIST      : National Institute of Standards and Technology (formerly NBS) NCHRP        : National Cooperative Highway Research Program
OTC      : Offshore Technology Conference PCI         : Prestressed Concrete Institute PTI        : Posttensioned Concrete Institute
RILEM    : Reunion Internationale des Laboratoire d’Essais et de Rechereches
Sur les Matėriaux et les Constructions
SNV       : Schweizerische Normen Vereinigung
TNO       : Netherlands Organisation for Applied Scientific Research
TCM       : Timber Construction Manual
USBR     : US Bureaue of Reclamation
USACE   : US Army Corps of Engineers
WES      : US Army Engineer Waterways Experiment Station
WFCM    : Wood Frame Construction Manual
NASA     : National Aeronautics and Space Administration
NHI       : National Highway Institute
NRC       : National Research Council
NZS       : Standards Association of New Zealand


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Posting Komentar